Menolak Tergesa-gesa di Pucuk Rancabali: Waktu yang Berhenti di Kampung Brussels

By Admin


Kampung Brussels/ Tangkapan Layar YT
nusakini.com, Kabut belum sepenuhnya menyingkir dari jendela kaca retak itu, ketika asap tipis mengepul dari cerek tembaga hitam di atas tungku. Di dapur berlantai tanah padat, Mak Icoh memutar perlahan cangkir sengnya yang terkelupas. Jari-jarinya tebal, dengan garis-garis hitam menempel permanen di sela kuku—sisa getah daun teh yang mengendap lebih dari empat dekade.

Pada ketinggian nyaris 2.200 meter di atas permukaan laut, udara Rancabali menggigit hingga ke sumsum tulang. Namun bagi Icoh, suhu yang bisa anjlok hingga lima derajat Celsius ini adalah selimut yang menemaninya sejak lahir. Tak banyak bicara, ia menyesap teh pekatnya yang hambar, lalu mengikat kain jarik bermotif parang di pinggang.

Di luar pintu kayu, Kampung Brussels masih tertidur. Tak ada sisa arsitektur Eropa di sini. Kampung yang masuk wilayah Kecamatan Pasir Jambu ini hanyalah titik noktah tersembunyi—belasan rumah panggung beratap seng berkarat yang dikepung lautan perkebunan teh berundak hingga ke kaki bukit.

Aroma di udara adalah percampuran embun beku, tanah vulkanis, dan samar-samar bau belerang. Kawah Putih, dengan lanskap pucatnya yang memikat ribuan orang, nyatanya hanya berjarak dua menit berjalan kaki menembus jalan makadam. Setiap akhir pekan, turis kota datang membawa lensa panjang dan tawa nyaring, merayakan pelarian dari sesaknya aspal Jakarta atau Bandung. Namun, nyaris tak ada yang menoleh ke bawah, ke lembah sempit tempat Kampung Brussels meringkuk dalam diam. Kantong isolasi ini menolak berputar secepat dunia di luarnya.

Icoh melangkah menjejakkan bot karetnya yang aus ke jalanan basah. Bersama tiga perempuan tua lainnya, ia berjalan menuju kebun. Tidak ada basa-basi berlebihan; riwayat hidup mereka terukir jelas pada punggung yang membungkuk dan ritme langkah pelan di tanjakan tajam.

Di tengah kebun, jemari Icoh menari di atas semak hijau. Ctek, ctek, ctek. Seharian, ia memetik pucuk teh muda, mengisi keranjang bambu yang perlahan memadat di punggungnya. Berton-ton pucuk teh terbaik telah melewati tangannya, dikirim ke pabrik, dan mungkin kini dihidangkan dalam porselen di hotel-hotel berbintang. Sebuah kontradiksi sunyi, mengingat yang ia seduh setiap pagi hanyalah sisa daun tua yang disangrai seadanya. Ia tak mengeluh. Ketakutannya hanya satu: kelak tangannya yang gemetar tak lagi kuat menahan dinginnya kabut.

Menjelang sore, langit berubah tembaga. Rombongan turis terakhir di Kawah Putih telah turun, mengembalikan kesunyian purba ke dalam lembah.

Icoh tiba di pelataran rumahnya, melepaskan keranjang dengan satu helaan napas panjang. Di ambang pintu, tangannya yang kasar menggantungkan topi caping pada paku bengkok. Ia duduk di lincak bambu, menatap hamparan hijau yang perlahan tertelan bayangan senja. Kesunyian begitu pekat, begitu utuh. Di bawah bayang-bayang kawah yang diam, memang tak ada yang menuntut untuk diubah. (*)